Resensi Novel "Gus Dur Santri Par Excellence" resensiator by Fahren Hamid
Judul buku : Gus Dur Santri Par Excellence
Penulis : Penerbit Buku
Kompas
Kota penerbit : Jakarta
Tahun terbit : Cetakan pertama, Januari, 2010
Harga buku : Rp. 50.000
Tebal Buku : 315 halaman, 14 cm x 21 cm
ISBN : 978-979-709-461-4
SINOPSIS
Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) merupakan simbol kesetaraan dan pluralisme, santri neomodernis
par excellence. Seorang guru bangsa dan solidarity maker. Ia menginginkan
setiap orang diperlakukan setara dalam hukum, tanpa membeda-bedakan warna
kulit, etnis, agama, atau ideologinya. Gus Dur pun menghargai mereka sebagai
sesama manusia dan warga negara.
Bagi
kalangan minoritas, Gus Dur merupakan pembela utama eksistensi mereka, Gus Dur
merupakan sosok pahlawan hak asasi manusia. Itulah yang membedakan Gus Dur
berbeda dengan tokoh islam yang lainnya di Indonesia Bahkan tahun 2004 Gus Dur diberi gelar
"Bapak Tionghoa" di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang. Kegigihannya membela
pluralisme ini juga yang membuat Gus Dur pada Mei 2008 dianugerahi Medals of
Valor dari The Simon Wieenthal Center di Amerika Serikat.
Buku
ini diawali dengan keadaan setelah Gus Dur wafat dan apa saja yang telah dipaparkan
tentang sikap Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme yang
senantiasa membela keberadaan kaum minoritas. Dilanjutkan dengan sikap bijak
Gus Dur yang menolak usulan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara islam
dengan alasan yang dapat diterima logika. Dan bab terakhir yang menjelaskan
keadaan pihak- pihak tertentu pasca meninggalnya Gus Dur.
Kelebihan
:
Bahasa
yang digunakan pada buku ini mampu meyakinkan pembaca bahwa apa yang
disampaikan penulis tentang Gus Dur sangat tepat, ditambah lagi dengan tokoh
ternama dan bukti dari Al Quran. Banyak kutipan-kutipan dari buku lain yang bisa menambah
pengetahuan pembaca. Ada beberapa pernyataan penulis yang didukung oleh
ayat-ayat Al-Quran
yang bisa lebih meyakinkan pembaca bahwa tindakan yang dilakukan Gus Dur adalah
benar. Seperti pada pernyataan “kaum Muslimin seharusnya tidak memebedakan
ajaran para Rasul” yang didukung
dengan Surat an-Nahl ayat 36, al-Hajj ayat 40,
al-Baqarah ayat 285, dan masih banyak lagi.
Kekurangan :
Tak
ada gading yang tak retak, meskipun banyak kelebihan yang dimiliki novel ini,
tapi ada juga kelemahannya. Buku yang terlalu tebal, hal tersebut dapat membuat
orang lain malas dalam membacanya dan cara penyajian yang monoton membuat
pembaca semakin mudah bosan. Ide antara sub bab satu dan yang lainnya yang
mirip membuat pembaca jadi kurang tertarik dengan novel ini.
Dibuat oleh : Fahren Hamid R - Pend. Bahasa Inggris (Universitas
Indraprasta PGRI Jakarta) 2019

Terima kasih sudah mengerjakan tugas
BalasHapus